Biaya Hidup vs Gaya Hidup

Sebagian orang selalu mengeluh penghasilannya kurang. Mengeluhkan penghasilan yang tidak bisa menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Mengeluhkan gaji yang tak bisa menutupi biaya hidupnya.

Dan, sejujurnya pada waktu tertentu saya sendiri masih melakukan hal yang sama. Apakah biaya hidup kita memang demikian mahal?. Atau penghasilan dan gaji kita yang memang terlampau kecil dan tidak kunjung naik?.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba kembali pada kehidupan saya beberapa tahun silam.

8-10 tahun lalu saat masih kuliah saya bisa hidup dengan anggaran 250-300 ribuan per bulan. Setelah lulus kuliah (7 tahunan silan) dan kembali ke kampung halaman saya memutuskan untuk merintis bisnis dan menggaji diri sendiri Rp.700-ribuan per bulan. Dan, sekali lagi saya bisa bertahan dan hidup dengan cukup baik.

Dari pengalaman itu saya akhirnya menarik kesimpulan, biaya hidup saya sebetulnya cukup murah. Apalagi kalau dibandingkan penghasilan saya sekarang. Angka-angka tadi sungguh mengejutkan.

Tapi entah kenapa, kadang saya masih merasa (meski tidak sampai mengeluh) kekurangan?. Merasa pendapatan saya kurang. Merasa biaya hidup saya kok semakin besar.

Ternyata, menurut pakar perencanaan keuangan yang terjadi sebetulnya adalah kita belum bisa mengatur keuangannya.

Alih-alih kekurangan uang yang terjadi sebenarnya adalah kekurangan pengetahuan tentang keuangan. Kurang pandai mengatur dan mengelola keuangan.

Persoalan inilah yang akhirnya membuat berapapun penghasilan dan gaji kita, tetap saja uang itu tidak pernah cukup. Gaji naik gaya hidup meningkat. Atau yang parah lagi, gaji tidak naik tapi gaya hidup sudah dinaikin sendiri.

Kesimpulan itu bukan isapan jempol atau asumsi belaka. Hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, keuangan 49 persen masyarakat Indonesia masih didominasi dengan tujuan jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan hidup.

Seringkali duit gaji mulai menipis menjelang akhir bulan. Kadang juga tabungan terpakai untuk memenuhi kebutuhan tersier.

Pola konsumsi generasi muda banyak yang mengkhawatirkan. Kita sering beranggapan kalau kita bebas melakukan apa yang kita inginkan. Kita merasa kaya kalau bisa menonton konser, traveling sana-sini biar bisa selfie.

Kalau mau jujur, sebetulnya biaya hidup kita sebenarnya sangat murah, biaya pamer yang mahal.

Pada akhirnya kurangnya pengetahuan dan kemauan untuk mengatur duit membuat para milenial seperti kita ini bisa bangkrut sebelum berusia 40 tahun. Jadi kuncinya, berapa pun penghasilan yang didapat tidak akan pengaruh, asal bisa mengendalikan pengeluaran kita bisa menjauhkan diri dari kebangkrutan.

Setidaknya ada tiga kesalahan pengelolaan keuangan yang sering dialami, yaitu tidak memiliki arah dan tujuan keuangan, gagal mengatur arus kas uang, dan kurang mempersiapkan tabungan atau dana darurat.

sebagai karyawan kita mungkin hampir tidak bisa memiliki kendali atas penghasilan yang kita terima setiap bulannya, tetapi kita bisa mengendalikan setiap rupiah uang yang kita keluarkan.

Jadi sudah jelas kan, kalau Biaya Hidup Itu Sebetulnya Murah, Biaya Pamer Yang Mahal. Aneh banget sebetulnya, banyak orang justru suka pamer pada orang-orang yang tidak atau belum tentu mereka sukai dan menanggung kebangkrutan karena prilaku itu.

Sampai kapan kita akan sadar dan bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan yang tak ada habisnya. Semoga sebelum hari tua kita tiba dan sudah terlambat untuk menyadarinya.


EmoticonEmoticon